Bagikan ke yang Lain


Ende, Wologai – Marvin Pemo | Umat Paroki Santo Yohanes Maria Vianney Pemo merayakan Hari Raya Pentakosta dalam satu perayaan bersama yang dipusatkan di Stasi St. Matius Wologai, Minggu 24 Mei 2026 pagi. Perayaan penuh sukacita ini menjadi momentum persatuan seluruh umat paroki dalam semangat kasih persaudaraan dan karya Roh Kudus.

Perayaan Ekaristi dimulai pada pukul 09.20 WITA dan berlangsung di Lapangan Volly Kampung Wologai. Umat dari berbagai stasi tampak antusias mengikuti jalannya perayaan. Hadir dalam perayaan ini umat dari Stasi Pusat, Stasi Maranua, Stasi St. Fransiskus Assisi Boafeo, Stasi Mbani, dan Stasi St. Matius Wologai.
Misa Hari Raya Pentakosta dipimpin oleh RD. Lukas Bernardus Ebu Dhae (Rainal) bersama imam konselebran, pastor paroki, pater, diakon, serta dua orang frater. Sementara petugas liturgi dipercayakan kepada umat Stasi St. Fransiskus Assisi Boafeo.

Pada Hari Raya Pentakosta ini, umat berkumpul sebagai Gereja yang bersukacita merayakan pencurahan Roh Kudus atas para rasul dan seluruh umat beriman. Roh Kudus yang dicurahkan Allah menghadirkan terang kebijaksanaan, semangat persatuan, dan keberanian untuk membangun kehidupan yang lebih baik.
Dalam suasana Bulan Pendidikan, umat diajak menyadari bahwa mutu pendidikan tidak hanya diukur dari kecerdasan dan prestasi, tetapi juga dari kemampuan membentuk pribadi yang beriman, berkarakter, peduli, dan mampu menghargai martabat sesama, termasuk saudara-saudari yang bergumul dengan kesehatan mental.

Tema perayaan Pentakosta tahun ini ialah: “Dipenuhi Roh Kudus, Membangun Pendidikan yang Bermutu dan Humanis.”

Melalui tema tersebut, umat diingatkan bahwa setiap orang menerima karunia Roh Kudus untuk dipakai demi kebaikan bersama. Karena itu, seluruh umat dipanggil mendukung pendidikan yang berkualitas, inklusif, dan penuh kasih melalui perhatian nyata kepada anak-anak, kaum muda, keluarga, dan para pendidik.

Semangat itu diwujudkan melalui berbagai gerakan pastoral, seperti Gerakan Orang Tua Peduli Anak Usia Dini, Gerakan KUB Ramah Anak, Gerakan KUB Peduli Ibu Hamil, serta perhatian pada 1000 hari pertama kehidupan agar lahir generasi yang sehat, cerdas, tangguh, dan beriman kokoh.

Dalam homilinya, RP. Wilibaldus Rade, O. Carm., menegaskan bahwa Hari Raya Pentakosta merupakan perayaan kelahiran Gereja sekaligus peringatan turunnya Roh Kudus atas para rasul.
Ia mengatakan bahwa Roh Kudus yang turun atas para rasul adalah roh yang mempersatukan umat dalam iman yang sama dan dalam kasih persaudaraan.

“Hari Raya Pentakosta adalah perayaan lahirnya Gereja dan turunnya Roh Kudus atas para rasul. Roh Kudus itu adalah roh yang mempersatukan kita dalam iman yang sama dan dalam kasih persaudaraan,” ungkapnya dalam homili.

Lebih lanjut, ia mengajak seluruh umat Paroki Santo Yohanes Maria Vianney Pemo untuk tetap hidup bersatu dan saling menerima sebagai satu keluarga besar dalam Gereja.

Menurutnya, perayaan Pentakosta satu paroki bukanlah kesempatan untuk saling membedakan antara satu dengan yang lain, melainkan untuk memperkuat persaudaraan sebagai satu umat Allah.

“Dengan turunnya Roh Kudus, tidak lagi ada istilah mereka, orang lain, atau aku. Semuanya adalah kita, satu paroki. Ketika kita menyatakan diri sebagai kita, maka persatuan persaudaraan menjadi dasar iman kita dalam satu tubuh dan satu Gereja,” tegas RP. Wilibaldus.

Ia juga mengingatkan umat agar Roh Kudus yang diterima dalam kehidupan sehari-hari menjadi kekuatan untuk hidup tanpa saling menghakimi dan tanpa perselisihan di tengah kehidupan menggereja.

“Roh Kudus yang turun atas kita hari ini mengingatkan kita agar tidak saling menghakimi. Tidak boleh ada lagi perselisihan atau masalah di antara kita satu paroki. Kasih persaudaraan harus menjadi pegangan kita dalam membangun iman di paroki ini,” lanjutnya.

Secara khusus, umat Paroki St. Yohanes Maria Vianney Pemo juga diajak untuk semakin bersemangat dalam kehidupan rohani, semakin rajin membangun kebersamaan, serta terus bersatu dalam setiap karya dan pelayanan demi kebaikan bersama.

Perubahan status dari Kuasi Paroki menjadi Paroki hendaknya menjadi tanda rahmat dan penyemangat baru bagi seluruh umat untuk semakin aktif, dewasa dalam iman, dan setia berjalan bersama sebagai satu keluarga Allah.

Dengan tuntunan Roh Kudus, diharapkan persatuan, semangat pelayanan, dan rasa persaudaraan di tengah umat terus bertumbuh sehingga Paroki Santo Yohanes Maria Vianney Pemo semakin hidup, kuat, dan menjadi berkat bagi banyak orang.

Perayaan Pentakosta satu paroki ini direncanakan berlangsung secara bergiliran di setiap stasi. Untuk tahun ini, Stasi St. Matius Wologai mendapat kesempatan pertama sejak perubahan status dari kuasi paroki menjadi paroki.

Dari pantauan Media Komsos Marvin Pemo, umat tampak sangat antusias dan penuh semangat mengikuti seluruh rangkaian perayaan hingga selesai. Kebersamaan umat dari berbagai stasi menjadi gambaran nyata persatuan Gereja dalam semangat Pentakosta.

Perayaan ini juga disiarkan secara langsung oleh Komsos Marvin Pemo sehingga umat yang tidak sempat hadir tetap dapat mengikuti jalannya perayaan secara daring.***

Ditulis oleh : Jhuan Mari/Komsos Marvi

St.Yohanes Maria Vianney Pemo

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *