Bagikan ke yang Lain

Ende, Pemo- Marvinpemo| Perayaan Ekaristi Ziarah TPAPT Komunio yang berlangsung di Gua Maria Mokeasa pada 29 Mei 2026 bukan sekadar perjumpaan iman umat dari tujuh paroki se-TPAPT Komunio.

Lebih dari itu, ziarah ini menjadi momentum refleksi bersama tentang bagaimana umat Katolik dipanggil untuk menghidupi nilai-nilai Injili di tengah berbagai tantangan sosial yang semakin kompleks.

Diawali dengan perarakan umat dari Jembatan Do Ka Bhetometo menuju Gua Maria Mokeasa, suasana doa dan kebersamaan begitu terasa. Kemeriahan koor dari Nangapanda semakin memperkaya perayaan yang mempertemukan umat dari berbagai wilayah dalam semangat persaudaraan dan kesatuan Gereja.

Dalam homilinya, RD. Ady mengangkat tema yang sangat relevan dengan kehidupan umat saat ini, yakni tentang posisi istimewa Bunda Maria dalam Gereja Katolik.

Ia menegaskan bahwa Gereja tidak menyembah Maria, melainkan menghormatinya sebagai Bunda Tuhan. Penyembahan (latria) hanya ditujukan kepada Allah Tritunggal Mahakudus, sementara penghormatan tertinggi (hiperdulia) diberikan kepada Bunda Maria karena peran istimewanya dalam karya keselamatan Allah.

Penegasan ini penting di tengah maraknya informasi dan perdebatan di media sosial yang sering kali menimbulkan kesalahpahaman tentang ajaran Gereja Katolik. Umat diajak untuk memahami iman secara benar dan tidak mudah terpengaruh oleh narasi yang dapat memecah belah persaudaraan.

Lebih jauh, pesan yang disampaikan tidak berhenti pada pemahaman teologis semata. Teladan Maria sesungguhnya mengajak umat untuk membangun sikap saling menghormati, menghargai, dan bekerja sama dalam kehidupan sehari-hari.

Allah terlebih dahulu menghormati Maria dengan memilihnya menjadi Bunda Sang Juruselamat. Penghormatan itu menjadi inspirasi bagi setiap orang untuk menghormati sesama sebagai ciptaan Allah yang bermartabat.

Pesan ini terasa semakin mendesak ketika kita menyaksikan berbagai persoalan sosial yang berkembang di tengah masyarakat. Kerusakan lingkungan hidup, berbagai kontroversi yang memicu gejolak sosial, hingga meningkatnya kasus perceraian menunjukkan adanya pelemahan nilai kebersamaan dan tanggung jawab sosial. Ketika semangat kerja sama memudar, maka kehidupan bersama pun menjadi rapuh.

Karena itu, ziarah ini menjadi ajakan untuk kembali meneladani Maria yang taat, rendah hati, dan terbuka terhadap kehendak Allah. Ketaatan Maria melahirkan karya keselamatan bagi dunia.

Demikian pula, ketika umat mampu membangun kerja sama, persaudaraan, dan kepedulian terhadap sesama serta lingkungan hidup, maka akan lahir kehidupan masyarakat yang lebih harmonis dan bermartabat.

Ziarah TPAPT Komunio 2026 mengingatkan kita bahwa iman tidak hanya dirayakan dalam doa dan liturgi, tetapi juga diwujudkan dalam tindakan nyata. Meneladani Maria berarti menjadi pribadi yang membawa damai, memperkuat persatuan, menjaga keutuhan keluarga, serta merawat alam ciptaan Tuhan demi masa depan yang lebih baik.

Di tengah berbagai tantangan zaman, Gereja terus mengajak umat untuk menjadi garam dan terang dunia. Dari Gua Maria Mokeasa, gema panggilan itu kembali terdengar: mari meneladani Maria, membangun kerja sama, dan menghadirkan kasih Allah dalam kehidupan sosial kita.***

Ditulis oleh : Jhuan Mari/ Komsos

St.Yohanes Maria Vianney Pemo

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *