Bagikan ke yang Lain

Empat Hal Penting bagi Umat dalam Masa Pemulihan Pasca gempa Flores


NDONA, 12 September 2026 โ€” Uskup Agung Ende, Mgr. Paulus Budi Kleden, SVD, melalui Surat Gembala Pascagempa Flores mengajak seluruh umat Keuskupan Agung Ende untuk terus membangun harapan, memperkuat solidaritas, dan bangkit bersama setelah mengalami bencana gempa bumi.

Surat Gembala yang bertema โ€œWajah-Mu kucari, ya Tuhanโ€ (Mzm. 27:8) mengajak umat menemukan wajah Tuhan bukan hanya dalam doa, tetapi juga dalam diri mereka yang menderita dan dalam diri orang-orang yang hadir memberikan pertolongan.

Bencana gempa bukanlah hukuman Tuhan. Di tengah penderitaan, umat justru diajak semakin menghayati semangat kenosis, yakni mengosongkan diri dari kepentingan dan kenyamanan pribadi untuk hadir dan melayani mereka yang miskin, menderita, dan terdampak bencana.

Menurut Uskup, masa pascagempa bukan hanya persoalan memperbaiki bangunan yang rusak. Pemulihan terutama menyangkut kehidupan manusia, relasi persaudaraan, keluarga, penghidupan, serta keberanian untuk menatap masa depan.Dalam semangat tersebut, Uskup memberikan empat penting kepada umat.

Pertama, Perayaan-Perayaan Gerejani Dilaksanakan secara Sederhana dan Aman

Tempat perayaan liturgis hendaknya disesuaikan dengan kondisi gereja atau kapela. Para pastor paroki atau kuasi paroki menentukan tempat yang tepat dan aman untuk perayaan Ekaristi dan sakramen lainnya.

Pelayanan sakramen seperti permandian, Komuni Pertama, pernikahan, dan krisma dapat kembali dilaksanakan di tempat yang dipandang tepat dan aman.

Kedua, Penerimaan dan Pembagian Bantuan Harus Adil dan Transparan

Uskup mengingatkan bahwa kebutuhan para penyintas berbeda-beda sesuai tingkat kehilangan dan kerusakan yang dialami. Karena itu, keadilan tidak selalu berarti semua orang memperoleh bantuan yang sama, tetapi bantuan diberikan berdasarkan kebutuhan dan tingkat penderitaan masing-masing.

Semua pihak yang terlibat dalam pengumpulan maupun pendistribusian bantuan diharapkan melaksanakannya secara adil, jujur, dan transparan, agar bantuan tidak justru menimbulkan perpecahan dan konflik sosial.

Ketiga, Kebiasaan Berpesta Hendaknya Disederhanakan

Umat diajak mensyukuri berbagai anugerah Tuhan melalui perayaan liturgis. Namun, pesta-pesta yang menyertai perayaan gerejani hendaknya disederhanakan atau bahkan ditiadakan.

Perjamuan tidak perlu dipestakan secara berlebihan. Perayaan Komuni Pertama, pernikahan, tahbisan, kaul kekal, peringatan hari ulang tahun tahbisan atau kaul, pemberkatan gereja dan kapela, ulang tahun paroki, serta kegiatan sejenis hendaknya dilaksanakan secara sederhana.

Kesederhanaan bukan sekadar mengurangi pengeluaran, tetapi merupakan pilihan iman dan tanda solidaritas kepada mereka yang masih berjuang memulihkan kehidupannya, terutama anak-anak, orang tua, dan mereka yang membutuhkan perawatan.

Keempat, Bersama Memasuki Tahap Pemulihan Pascagempa

Uskup menegaskan bahwa berdasarkan Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana, tanggung jawab utama penanggulangan bencana berada pada pemerintah. Namun, hal tersebut tidak meniadakan partisipasi umat sebagai warga negara.

Tahap transisi dan pemulihan mencakup pendampingan pastoral dan trauma healing, pemulihan ekonomi, serta perbaikan dan pembangunan kembali hunian warga dan fasilitas umum.

Gereja juga akan berpartisipasi sesuai petunjuk pemerintah dan kemampuan yang dimiliki. Perhatian terutama diarahkan kepada mereka yang kehilangan anggota keluarga, tempat tinggal, sumber penghidupan, serta mereka yang masih mengalami ketakutan dan trauma.

Dalam pembangunan kembali fasilitas Gereja, Uskup menekankan prinsip solidaritas dan subsidiaritas. Bangunan yang dibangun kembali hendaknya tidak sekadar mengembalikan keadaan seperti semula, tetapi menjadi kesempatan belajar dari pengalaman gempa agar lebih aman, layak, sederhana, dan sesuai kebutuhan pastoral.

Menutup suratnya, Uskup menyampaikan terima kasih kepada para relawan, pemerintah, Caritas Indonesia, keuskupan-keuskupan, organisasi, kelompok masyarakat, biara-biara, dan semua pihak yang telah membantu masyarakat terdampak gempa.

Untuk File Surat Gembala

Selanjutnya: Uskup Agung Ende Tegaskan Empat Hal Penting bagi Umat dalam Masa Pemulihan Pasca gempa Flores

St.Yohanes Maria Vianney Pemo

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *