Terang yang Menghidupkan dan Membangkitkan Harapan.

Bagikan ke yang Lain


Ende, Mbani – Perayaan Misa Malam Natal pada Rabu, 24 Desember 2025, yang berlangsung di Gereja Stasi St. Petrus Mbani, Kuasi Paroki Maria Vianney Pemo, menjadi perayaan iman yang penuh makna dan harapan. Misa yang dimulai tepat pukul 18.00 WITA ini dipimpin oleh Romo RD. Ferdinandus Nay Ngebu, dengan umat dari Stasi St. Matius Wologai dan Stasi St. Petrus Mbani memadati gereja dan mengikuti perayaan dengan penuh antusiasme.


Dalam suasana malam yang khidmat, homili Natal yang dibawakan oleh Frater Ongki mengajak umat merenungkan makna terdalam kelahiran Yesus Kristus. Natal, sebagaimana ditegaskannya, adalah peristiwa ilahi yang terjadi dalam kesunyian dan kerendahan—ketika Sang Terang dunia lahir di kandang yang hina. Mengutip nubuat Nabi Yesaya, Frater Ongki menegaskan bahwa umat beriman adalah mereka yang telah melihat terang yang bersinar di tengah kegelapan, terang yang menghidupkan dan membangkitkan harapan.


Ia juga menegaskan ajaran Rasul Paulus bahwa Kristus menjadi manusia untuk membebaskan manusia dari segala kejahatan dan menguduskan hidupnya. Karena itu, umat diajak membuka hati, bahkan “kandang hati” yang paling sederhana dan rapuh, agar Kristus berkenan lahir dan tinggal di dalamnya.


Refleksi Injil Lukas dalam perayaan ini berfokus pada Kidung Zakharia (Benedictus)—sebuah pujian yang lahir dari pengalaman iman yang ditempa oleh keraguan dan kesetiaan Allah. Zakharia, yang sebelumnya dibungkam karena ketidakpercayaannya, kini dipenuhi Roh Kudus dan memuliakan Tuhan. Diam berubah menjadi pujian, dan keraguan berkembang menjadi iman yang matang. Dalam pujiannya, Zakharia juga menyadari panggilan khusus bagi Yohanes Pembaptis, anaknya, yang diutus untuk mempersiapkan jalan bagi Tuhan.


Pesan ini, menurut Frater Ongki, menjadi cermin bagi setiap orang beriman. Hidup Kristen selalu bersifat perutusan: bukan menjadi pusat perhatian, melainkan menjadi jembatan agar sesama dapat berjumpa dengan Tuhan. Di tengah berbagai situasi hidup—kekecewaan, ketakutan, dan pergulatan iman—Allah tetap setia melawat umat-Nya. Ketika hati dibuka bagi karya Roh Kudus, hidup manusia dapat berubah menjadi pujian dan kesaksian nyata.


Antusiasme umat dari kedua stasi yang hadir dalam perayaan ini mencerminkan kerinduan akan damai dan pengharapan yang dibawa oleh kelahiran Kristus. Natal kembali ditegaskan bukan sekadar perayaan ritual tahunan, melainkan perayaan harapan—harapan yang tidak bersumber dari optimisme manusia semata, tetapi berakar pada tindakan Allah yang nyata dalam sejarah keselamatan.


Terang Kristus yang lahir di malam Natal itu diharapkan terus menyala dalam kehidupan umat, menuntun Gereja dan dunia menuju damai sejati.

Ditulis oleh: Jhuan Mari

St.Yohanes Maria Vianney Pemo

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *