


Mataloko, Bajawa – Kabut tipis menyelimuti Rusun Seminari Mataloko, Kabupaten Ngada. Udara dingin yang bersahabat seolah memeluk para peserta yang datang dari berbagai penjuru paroki se-Keuskupan Agung Ende.
Di tempat yang hening dan sarat nuansa rohani inilah, sejak 4–7 Februari 2026, sebanyak 72 peserta pelatihan jurnalistik dan media digital berkumpul utusan paroki yang dipanggil untuk menghidupi pewartaan Gereja melalui media visual dan digital.
Pelatihan ini tidak sekadar menjadi ruang belajar teknis, tetapi sungguh menjadi perjumpaan iman, pengetahuan, dan semangat pelayanan. Sejak awal, seluruh rangkaian kegiatan diletakkan dalam suasana rohani.
Kegiatan diawali dengan doa Ibadah Sabda, dan setiap pagi para peserta memulai hari dengan Perayaan Ekaristi, menegaskan bahwa pewartaan melalui media lahir dari altar dan kembali untuk pelayanan umat.
Dari pagi hingga sore, aula Rusun Seminari Mataloko tak pernah kehilangan denyut kehidupan. Kamera menyala, laptop terbuka, diskusi mengalir hangat. Para peserta dibekali pemahaman tentang video grafis, foto grafis, penulisan feature, serta pengelolaan konten media sosial sebagai sarana pewartaan Gereja di era digital.
Gereja, dalam pelatihan ini, dipahami bukan hanya hadir di mimbar dan altar, tetapi juga hadir di ruang digital menyapa umat melalui visual yang jujur, cerita yang membangun, dan pesan yang menyentuh hati. Media visual menjadi bahasa baru Gereja untuk mewartakan Injil dalam konteks zaman.
RENSTRA KAE sebagai Roh Gerakan
Seluruh proses pelatihan dibingkai oleh Rencana Strategis (RENSTRA) Keuskupan Agung Ende 2022–2027.
Isu-isu pastoral Gereja KAE menjadi bahan refleksi, diskusi, sekaligus praktek nyata dalam bentuk tulisan, video, dan gambar.
Visi “Keluarga Kristiani Bertumbuh dalam KUB dan Iklim Kerja Pastoral yang Tangguh” menjadi benang merah pelatihan.
Peserta diajak menerjemahkan misi Gereja mewartakan Injil, membangun persekutuan yang inklusif, berbela rasa dengan yang terpinggirkan, serta menjaga keharmonisan dengan alam ciptaan ke dalam karya media yang kontekstual dan membumi.
Diskusi semakin hidup ketika nilai-nilai KUB yang injili, mandiri, solider, dan misioner diolah menjadi konten jurnalistik. Media tidak lagi dilihat sebagai pelengkap, melainkan sebagai cara hidup Gereja dalam bersaksi.
Pendampingan Para Romo: Berjalan Bersama



Kehadiran para Romo pendamping dari masing-masing TPK menjadi kekuatan tersendiri dalam pelatihan ini. Mereka tidak hanya hadir sebagai pendamping rohani, tetapi juga sebagai rekan seperjalanan, yang saling mendukung, menguatkan, dan bertanggung jawab bersama dalam proses belajar.
Kebersamaan ini memperlihatkan wajah Gereja yang Terbuka: berjalan bersama, saling menopang, dan saling belajar antara imam dan awam, antara paroki dan keuskupan.
Pelatihan semakin hidup berkat kehadiran narasumber yang ramah, komunikatif, dan membumi. R.B.E. Agung Nugroho, jurnalis Kompas, bersama Samuel Krismanto biasa disapa mas Kris dari KWI, menyampaikan materi dengan pendekatan dialogis. Teori jurnalistik dipadukan dengan praktik langsung: menulis, memotret, merekam, dan mengedit Video Konten yang siap dipublikasikan di media sosial.
Diskusi berlangsung terbuka. Peserta bebas bertanya, berdiskusi, bahkan mengkritisi. Di sinilah pelatihan menjadi ruang pembelajaran yang nyata tempat iman bertemu profesionalisme.
Antusiasme dan Harapan Peserta
Antusiasme peserta terasa kuat sepanjang kegiatan. Tumbuh harapan bersama agar media Komsos di paroki-paroki terus hidup, dikelola secara konsisten, dan menjadi sarana pewartaan karya Allah. Dengan bekal pengetahuan yang diperoleh, para peserta siap kembali ke paroki masing-masing dan mulai berkarya.
“Kami ingin apa yang kami pelajari di sini sungguh diterapkan dan dihidupi di paroki,” ungkap Oyen salah satu peserta dengan penuh keyakinan.
Di akhir kegiatan, RD. Usno Wodo, Ketua Komsos Keuskupan Agung Ende, menyampaikan harapan sekaligus arah gerak ke depan. Ia menegaskan bahwa Tim Komsos KAE tidak berhenti pada pelatihan, tetapi akan bersama-sama turun ke paroki-paroki sebagai bentuk kerjasama dan kolaborasi nyata antara Komsos KAE dan Komsos Paroki.
“Kita akan saling belajar dan terus saling mendukung. Jika ada tulisan atau berita dari paroki, silakan dikirim ke Komsos KAE untuk dipublikasikan. Kita akan terus berkoordinasi dengan media dan media group,” tegasnya.
Ia juga menegaskan bahwa Komsos KAE Ende tidak menutup pintu bagi siapa pun yang ingin belajar.
“Pintu Komsos KAE sangat terbuka. Pintu studio Komsos KAE siap menerima siapa saja untuk belajar dan berkembang,” tambahnya.
Ketika pelatihan berakhir, Rusun Seminari Mataloko tidak hanya menyimpan kenangan akan udara dingin dan alam yang bersahabat.
Dari tempat ini, lahir komitmen dan harapan baru: bahwa pewartaan Gereja Keuskupan Agung Ende akan semakin hidup melalui media visual dan digital.
Dari doa dan Ekaristi, dari kamera dan tulisan, dari kolaborasi dan semangat persaudaraan karya Allah akan terus diwartakan. Dan Gereja, di tengah dunia digital yang dinamis, memilih hadir, berjalan bersama, dan memberi makna.
Tulisan Feature ini rangkuman secara umum selama proses kegiatan pelatihan. Terimakasih kasih untuk Narasumber, para Romo, Panitia pelaksana dan teman-teman peserta dari masing-masing paroki. Terima kasih atas Ilmunya, dan mohon maaf jika ada kesalahan dari kami para peserta, semoga Dengan pengetahuan yang ada pewartaan karya Allah terus berlanjut. Semoga



Penulis : Jhuan Mari – Ketua Komsos Kuasi Paroki Marvin Pemo.
