


Penerimaan dengan Tarian Wela Dela
Ende.Pemo- Marvinpemo| Pagi itu, 19 April 2026, udara di Pemo terasa berbeda. Ada getar harapan yang lama disimpan, kini menemukan jalannya untuk dirayakan. Sejak dari pintu masuk Desa Jejaraja, suasana telah hidup bukan sekedar ramai, tetapi penuh makna. Umat berdiri berbaris, wajah-wajah mereka memancarkan sukacita yang tak dibuat-buat.
Hari itu bukan hari biasa. Hari itu adalah jawaban dari penantian panjang selama sepuluh tahun.Kedatangan Mgr. Paulus Budi Kleden. SVD disambut dengan cara yang begitu khas dan menyentuh.
Alunan musik suling yang dimainkan oleh para bapak mengiringi langkah beliau sejak dari Jejaraja, melewati Lingkungan Woropapa, hingga mendekati gereja. Nada-nada sederhana itu justru menghadirkan suasana yang dalam seolah menjadi doa yang mengalun, menyambut gembala yang datang membawa kabar sukacita bagi umatnya.
Memasuki halaman gereja, sambutan semakin meriah. Tarian Wela Dele yang dibawakan oleh kelompok bapak-bapak menjadi simbol penghormatan dan kegembiraan. Gerak yang tegas namun penuh kebersamaan itu menggambarkan perjalanan umat yang tidak mudah, tetapi tetap teguh dalam iman.
Prosesi adat pun menjadi bagian tak terpisahkan dari perayaan ini. Di Tanah Modagagi, tokoh adat dengan penuh khidmat mengalungkan selendang kepada Uskup Agung sebagai tanda penerimaan dan penghormatan sekaligus dengan pertunjukan tarian Woge, Momen itu tidak sekedar seremoni ia adalah perjumpaan antara iman dan budaya, antara gereja dan akar kehidupan umat.
Tak berhenti di situ, suasana semakin hidup dengan tarian Wanda Pa’u yang kembali diiringi alunan suling. Setiap langkah, setiap irama, seakan menceritakan kisah panjang perjuangan umat Pemo kisah tentang kesabaran, kerja sama, dan harapan yang tak pernah padam.



Dari pantauan tim komunikasi sosial (KOMSOS MARVIN PEMO)umat dari 5 stasi dan 17 lingkungan hadir dan menyatu dalam perayaan ini. Mereka datang bukan hanya untuk menyaksikan sebuah peresmian, tetapi untuk merayakan identitas mereka sebagai satu keluarga besar.
Dari berbagai penjuru, mereka berkumpul dalam satu tujuan untuk bersyukur.Sepuluh tahun bukanlah waktu yang singkat. Dari status kuasi paroki hingga akhirnya resmi menjadi paroki, perjalanan ini penuh dengan dinamika. Namun, di balik semua itu, ada satu kekuatan yang terus dijaga kebersamaan.
Persatuan yang dibangun lintas wilayah, lintas perbedaan, menjadi fondasi yang kokoh bagi berdirinya Paroki St. Yohanes Maria Vianney Pemo.Peran para imam dalam perjalanan ini tidak bisa dipisahkan. Sejak titik pelayanan Pemo ditetapkan, mereka dengan tekun merajut persaudaraan di tengah umat.
Perlahan tapi pasti, sekat-sekat wilayah dilebur, dan digantikan dengan semangat sebagai satu tubuh dalam Kristus.Hari itu, ketika Surat Keputusan definitif diterima, bukan hanya status yang berubah. Lebih dari itu, harapan umat menemukan bentuknya.
Penantian panjang terbayar lunas oleh sebuah pengakuan: bahwa mereka telah siap menjadi gereja yang mandiri, dewasa, dan terus bertumbuh.Peresmian ini bukanlah akhir dari perjalanan, melainkan awal dari tanggung jawab baru. Sebuah rumah besar telah berdiri rumah yang dibangun dari persatuan, persaudaraan, dan kebersamaan.
Profisiat untuk Paroki St. Yohanes Maria Vianney Pemo. Semoga semangat yang telah dibangun selama ini terus menyala, menjadi terang bagi generasi yang akan datang. *** JF. KOMSOS MARVIN





