
Ende, Boafeo – Marvin Pemo| Stasi St. Fransiskus dari Assisi Boafeo merayakan Misa Kamis Putih pada tanggal 2 April 2026 dengan penuh khidmat. Perayaan Ekaristi ini dipimpin oleh RP. Markus Tulu, SVD, yang dalam homilinya mengajak umat untuk merenungkan makna terdalam dari kasih, pengorbanan, dan kebersamaan.
Dalam refleksi Sabda Tuhan, umat diingatkan akan perintah Allah kepada umat-Nya untuk merayakan hari raya dengan semangat berbagi. Perjamuan bukanlah untuk dinikmati sendiri, melainkan menjadi momen kebersamaan, terutama dengan mereka yang berkekurangan. Semangat ini menjadi panggilan nyata bagi umat untuk membuka hati, mengundang, dan merangkul sesama, khususnya keluarga yang sederhana dan miskin.
Kamis Putih juga menjadi kesempatan untuk membersihkan hati dari dendam dan kesombongan. Umat diajak untuk hidup dalam kerendahan hati, berani mengakui dosa, serta tidak membandingkan diri dengan orang lain. Persiapan menyambut Tubuh Kristus tidak hanya secara lahiriah, tetapi terutama melalui hidup yang benar, hati yang bersih, serta sikap tidak iri terhadap keberhasilan sesama.
Teladan kasih sejati ditunjukkan oleh Yesus Kristus yang tetap mengasihi murid-murid-Nya, bahkan ketika Ia mengetahui akan ada pengkhianatan. Kasih, kesetiaan, kesabaran, dan ketaatan menjadi dasar hidup umat beriman.
Kehidupan sebagai pengikut Kristus bukan sekadar pilihan, tetapi sebuah panggilan untuk terus hidup dalam kasih setiap hari.
Pr. Markus Tulu, SVD menuturkan “Dalam konteks kehidupan keluarga, Gereja juga menyoroti berbagai tantangan yang dihadapi umat saat ini, seperti perpecahan dalam rumah tangga, yang ditandai dengan,pisah ranjang dan pisah meja makan. Situasi ini menjadi keprihatinan bersama dan panggilan untuk membangun kembali relasi yang dilandasi kasih”tuturnya.
Melalui teladan Yesus yang membasuh kaki para murid, umat diajak untuk “memperindah hati” membersihkan diri dari iri hati, egoisme, dan kebencian, serta membangun sikap saling menerima, mengampuni, dan mengasihi.
Hidup beriman menuntut keberanian untuk merawat kehidupan bersama, bukan saling melukai atau menjatuhkan.
Perayaan Kamis Putih ini menjadi momentum penting untuk memperbaharui iman, memperdalam kasih, serta menghidupi panggilan sebagai murid Kristus yang sejati. Umat diutus untuk menjadi tanda kasih Allah di tengah dunia, dimulai dari keluarga dan lingkungan terdekat.
Kontributor: Redem Teku
