Kuasi Paroki St. Yohanes Maria Vianney Pemo berawal dari sebuah wilayah stasi yang berada dalam karya pastoral beberapa paroki, yakni Paroki Kombandaru, Paroki Ratesuba, dan Paroki Wolotolo. Dalam perjalanan sejarahnya, wilayah Pemo mengalami dinamika pelayanan pastoral seiring dengan perkembangan jumlah umat dan kebutuhan pendampingan rohani.
Pada tahun 1973, wilayah Pemo menjadi bagian dari Paroki Ratesuba, kemudian kembali dilayani oleh Paroki Kombandaru pada tahun 1984. Demi mendekatkan pelayanan kepada umat, pada tahun 2014 wilayah Pemo ditetapkan sebagai Titik Pelayanan, dan pada tahun 2016 statusnya resmi ditingkatkan menjadi Kuasi Paroki St. Yohanes Maria Vianney Pemo.
Saat ini, Kuasi Paroki Pemo memiliki lima stasi, yaitu Stasi Pusat, Stasi Boafeo, Stasi Wologai, Stasi Mbani, dan Stasi Maranua. Seluruh stasi telah memiliki gereja serta rumah pastoral permanen.
Berdasarkan data hingga Januari 2025, Kuasi Paroki Pemo memiliki 1.126 Kepala Keluarga, dengan jumlah umat 4.618 jiwa, yang terhimpun dalam 58 KUB dan 16 lingkungan. Secara geografis, wilayah Kuasi Paroki berbatasan dengan Paroki Wolotolo di sebelah timur, Paroki Kombandaru di selatan dan barat, serta Paroki Ratesuba di sebelah utara.
Mayoritas umat bermata pencaharian sebagai petani dengan komoditas unggulan kopi, cengkeh, dan kemiri. Sekitar 10% umat berprofesi sebagai guru. Dalam kehidupan menggereja, umat memiliki religiusitas yang tinggi, didukung oleh budaya Ende yang menjunjung persaudaraan, kekeluargaan, dan semangat gotong royong.
Kuasi Paroki Pemo juga didukung oleh aset yang memadai, seperti tanah gereja yang sah dan bersertifikat, kebun paroki untuk kemandirian ekonomi, lembaga pendidikan dari tingkat PAUD hingga SMP, serta kelompok kategorial seperti OMK, SEKAMI, Legio Maria, dan THS/THM.
Dengan semangat kebersamaan dan pelayanan, Kuasi Paroki St. Yohanes Maria Vianney Pemo terus bertumbuh sebagai persekutuan umat Allah yang setia dalam iman, tangguh dalam karya, dan solider dalam pelayanan.
